What Happened To Earth?
Hari ini sangat aneh, mengapa guruku menyuruh murid-murid nya untuk masuk sekolah di siang hari?, bukan di pagi hari.
Ah, aku harus menghubungi temanku untuk menanyakan situasi ini.
[1 Massage from Dira]
“Eh, dira udah chat duluan nih”
Dira = zellaa, kok bu evy nyuruh kita masuk siang ya?, aneh banget ga sih?, ga ada pemberitahuan, mendadak banget ih
Zella = aku juga gatauu dir, yakann, tiba tiba banget, tapi yaudah lah ya, ikutin kata bu evy aja
Dira = iyaa, see u zel
Aku sudah sampai di sekolah, yah benar saja, murid murid juga datang ke sekolah pada siang hari.
Suasana di kelas ku seperti biasa, sangat ramai, tetapi dira belum juga sampai. Aku menanyakan tentang dira kepada salah satu temanku yang satu jemputan dengan dira, Namanya Kifa. “eh?, aku sama dira emang satu jemputan tapi jam kita beda, aku jam pertama dan dira jam kedua” itulah jawaban dari Kifa. Kemana dira?
Ternyata dira telat, ibunya menyuruh dia untuk mengemas pakaian dan barang barang karena besok dia dan keluarganya akan pergi ke padang. Aku melihat sosok perempuan lari tergesa-gesa dan ternyata itu adalah Dira, sahabatku.
“kamu nungguin aku ya zel?, maaf ya aku telat soalnya aku harus kemas barang barang aku, kamu tau kan besok aku ke padang?, ga sabar bangett” padang adalah kampung halaman Dira, dan dira sangat jarang pulang ke kampung halamannya, jadi tentu saja dia se bahagia itu. “gapapa kokk, aku ga lama lama banget nunggu nya oh iy-“
KRINGG
bunyi bel, menandakan murid murid harus masuk ke kelas masing masing, waktunya murid murid melakukan aktivitas seperti biasa yaitu belajar. “EH?, udah bel aja, yuk ke kelas dir”
Waktu sudah menandakan jam 01.35, tetapi di kelas ku tidak ada guru sama sekali, teman teman di kelas ku bebas bermain atau mengobrol. “gurunya mana sih? Kita udah nungguin setengah jam loh” “udah sih, santai aja jen, marah marah mulu” oh ya, kenalin perempuan yang suka marah marah dan tidak sabaran itu bernama Jena, dia termasuk teman dekat ku.
“drkkk” ternyata ada guru yang membuka pintu kelas ku dia adalah Bu Evy, ia menampilkan tubuhnya di hadapan kelas, dan berkata “nak, maaf tapi kalian harus pulang sekarang juga” dengan perkataan itu seisi kelas heboh, “BU, NGAPAIN KITA MASUK KALAU DI SURUH PULANG SEKARANG, KITA AJA DI SEKOLAH GA SAMPE SE JAM” teriak rika (dia teman dekatku juga). “maafkan ibu, tapi kalian harus pulang SEKARANG juga!, kalian gaboleh nyaksiin be-“ bu evy terdiam, seakan akan ada yang menahannya untuk bicara. Dan ya, terjadi lah cek cok antara rika dan bu evy.
Pada akhirnya aku dan teman teman ku menuju lobby menunggu jemputan untuk pulang, kita semua masih heran, kenapa kita harus masuk siang tetapi disuruh pulang juga?, kukira hanya murid kelas ku yang disuruh pulang, tetapi semua murid berjalan kearah lobby dengan memakai tasnya.
Sampai di lobby, aku hanya mengobrol dengan dira, ya tentu saja topik nya tentang mengapa kita harus masuk siang tetapi disuruh pulang juga? Benar benar aneh.
Saat asyik mengobrol, tiba tiba banyak orang orang berhamburan, mereka semua berlari an masuk ke sekolah, bukan hanya murid, tetapi SEMUA ORANG, ada apa ini? Kenapa semua berhamburan masuk ke sekolah ku?, apa yang terjadi di luar sana? Pertanyaan pertanyaan itu mulai muncul di benak ku. Aku dan dira hanya diam di tempat, menyaksikan orang orang berlari tergesa gesa, “LARI ADA TSUNAMI” teriak seseorang.
Apa maksudnya?, tsunami?, ternyata orang itu memang benar, aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, di belakang orang orang yang sedang berlari, ada air yang sangat tinggi mengejar mereka.
Tiba tiba tangan ku di tarik oleh seseorang, dan orang itu adalah dira, dia menarik ku mengajak untuk berlari bersama, dira terus menerus menengok ke belakang ku, mata nya seperti tidak percaya karena yang dia lihat itu adalah tsunami yang sangat tinggi.
Kami disuruh oleh guru pergi ke lantai paling atas, saat di lantai paling atas kami melihat tsunami sudah menghantam sekolah kami, aku melihat kearah dira, dia menangis “dir? Kamu gapapa?” tanyaku “gapapa gimana?, kamu ga liat di bawah banyak orang yang tewas gara gara tsunami sialan ini?, dan besok aku harus ke padang zel, terus orang tua aku gimana? Mereka dirumah, mereka gatau apa apa zel, kenapa bencana kayak gini tiba tiba banget?, kenapa bumi sialan ini selalu membuat bencana yang menimpa kita?” apa yang dikatakan oleh dira ada benarnya, tetapi tidak semua nya benar, ini bukan salah bumi, tetapi salah kita yang terus terus an mengandalkan bumi ini akan terus menjaga kita, padahal bumi tidak bisa menjaga kita.
Di lantai paling atas hanya ada 4 ruangan, jadi, kita terpaksa untuk menggabungkan 2 kelas di 1 ruangan.
Aku tidak suka keadaan seperti ini, ruangan ini seperti menggabungkan semua perasaan, dari sedih sampai emosi. Sangat ramai, banyak yang menangis, banyak yang marah dan melontarkan kata kata tidak senonoh. Tetapi diantara semua orang itu, aku merasa orang ini paling menyedihkan dia berbeda kelas dengan ku, dia bernama Reina, ternyata dia menyaksikan adiknya sendiri tewas karena tsunami itu, adik nya juga bersekolah disini, saat tsunami itu terjadi, adiknya tidak bisa lari karena dia menggunakan kursi roda atau bisa dibilang disabilitas.
Saat malam hari nya, air belum juga surut, bu evy menceritakan sesuatu kepada kita “ibu suruh kalian masuk siang karena guru guru disini sudah tau akan ada bencana, tetapi kita ada salah dan benar nya, kita salah karena tidak mengetahui pasti kapan ada bencana nya dan menyuruh kalian masuk sekolah di siang hari begitu saja, tetapi bencana ini sering ada di pagi hari karena itu guru guru disini menyuruh kalian untuk masuk sekolah di siang hari, dan ternyata itu sebuah kesalahan, dan kita benar karena, sekolah kita memiliki 5 lantai, yang membuat kita semua bisa bertahan dari bencana itu. Sebenarnya ibu tidak mau memberi tau soal ini tetapi semua orang sudah tewas kecuali kita.” Setelah mendengar kalimat terakhir, aku merasa ada yang aneh di wajahku… ada air yang jatuh dari mata ku.. keluarga dari kita semua sudah tiada.
Semua orang menangis, memikirkan nasib keluarga nya, terutama Dira, rencana untuk pulang ke kampung nya, gagal. Kita tertidur dengan perasaan marah dan sedih.
[Selasa 24 juni 2024]
DAY 1
Air sudah surut, kita sarapan dengan makanan yang sudah di atur oleh guru guru, dan kita di ajarkan tentang bencana itu.
NOTES
- BENCANA INI SERING TERJADI PADA PAGI HARI, PUKUL 09.00
- SETIAP 1 HARI 1 BENCANA
- SETIAP HARI RABU DAN JUMAT KITA KELUAR SEKOLAH PADA PUKUL 05.00 PAGI UNTUK MENCARI MAKANAN
- JIKA ADA BENDERA BERWARNA UNGU, LARI DAN JANGAN BERSUARA!!
“kok guru guru disini tau?, kenapa kita ga di kasih tau?, pantes keluarga kita udah ga ada, orang gara gara nih sekolah” ah… jena…. Itu terlalu kasar bukan?, “keluarga kalian tiada bukan karena kami, tetapi memang mereka sudah dipilih oleh Tuhan, dan kenapa hanya guru guru yang tau?, karena pemerintah yang memberi tahu kami dan menyuruh kami untuk diam.” Saut seorang laki laki, ternyata itu kepala sekolah, Pak Eko.
Bunyi bel sekolah, ternyata bel itu bukan menunjukkan untuk masuk ke kelas masing masing, melainkan bencana lain akan datang.
Setelah bel itu berbunyi, semua guru disini terlihat cemas, mereka langsung menyuruh kita untuk menyiapkan diri kita. “bencana kali ini akan lebih menegangkan dari pada yang kemarin, itu tidak seberapa, sebentar lagi akan ada suara lonceng yang sangat besar, saat lonceng itu bersuara, JANGAN ADA YANG MELONTARKAN SATU KATA PUN!” apa maksudnya?, kenapa kita harus diam?, sangat tidak masuk akal, bunyi lonceng katanya? Aku sudah muak dengan ini semua.
Yang diriku tidak ketahui, semua yang guru itu bilang adalah kebenaran, sudah pukul 09.00, tiba tiba ada bunyi lonceng yang sangat besar, kita semua menutup telinga, tidak tahan dengan bunyi lonceng itu. Aku mendengar teriakan perempuan… “SIALAN, LONCENG SIALAN, KUPINGKU BERDARAH” jangan..jangan melontarkan satu kata pun… perempuan itu jena, aku tau ini tidak masuk akal tetapi beberapa detik setelah jena berteriak, tubuhnya meledak di depan semua orang. Setelah kejadian itu, bunyi lonceng sudah tidak terdengar lagi, semua orang teriak histeris, darah dari tubuh jena memancar kemana mana, jena… kamu seharusnya tidak teriak.
Saat orang orang sedang histeris, kami merasakan barang barang di sekitar kami bergerak, ternyata bencana kali ini adalah Gempa, tetapi gempa yang ini lebih mengerikan dari gempa biasa nya.
“SEMUA PEGANG BENDA YANG KOKOH, AGAR KALIAN TIDAK TER OMBANG AMBING!” tidak…aku tidak menemukan benda yang kokoh sama sekali, di tengah keributan ini, aku melihat banyak orang yang tewas karena terlempar, banyak yang kepala nya mengeluarkan darah, tulangnya patah, dan ada bagian tubuh yang lepas karena terlempar sangat keras. Apakah aku akan berakhir seperti itu juga? Karena aku tidak menemukan benda yang kokoh untuk ku pegang?, hari ini, hal itu terjadi lagi, dira menyelamatkan ku lagi. Dia memegang tanganku erat sambil memegang benda yang kokoh juga untuk menahan tubuh kami berdua agar tidak ter ombang ambing.
10 menit kemudian, bencana sudah selesai, untuk hari ini.
Kami semua masih terlihat tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, ada apa dengan bumi ini?. “dira, makasih, kamu udah nyelamatin aku lagi” dira membalas dengan senyuman nya yang manis. Aku dan dira melihat kearah satu jasad yang kami rasa familiar sekali, kami mendekati jasad itu, dan ternyata itu adalah kifa, keadaan nya sangat tidak menguntungkan, tulang kaki nya patah, kepalanya… mungkin sedikit lagi akan putus?.. Kita bekerja sama untuk membuang jasad jasad ini, kami tidak bisa menguburnya dengan layak, karena situasi yang sedang terjadi.
Malam harinya, tidak ada yang melontarkan satu kata pun, mungkin masih memikirkan apa yang sedang terjadi. “besok kita keluar dari sekolah untuk mencari makanan” bu evy memecahkan situasi yang sedang hening, “hah? Gimana gimana? Kalau kita berakhir kayak mereka tadi gimana?” rika tidak bisa menahan emosi nya lagi, dia melihat beberapa temannya sudah tewas karena bencana yang telah terjadi. “kalau kamu mau mati, yaudah ga usah ikut” kenapa pak eko selalu ikut campur? Kesal sekali melihatnya.
Lagi dan lagi, kami selalu tidur dalam keadaan sedih dan marah.
[Rabu,25 juni 2024]
DAY 2
Pukul 05.00
Benar saja, kami keluar dari sekolah untuk mencari makanan agar terus bertahan hidup. Banyak supermarket disini, jadi kami tidak usah pergi jauh jauh.
3 jam berlalu..
“ada yang lihat reina?, kita harus balik ke sekolah sekarang juga, sedikit lagi pukul 09.00” oh iya… aku tidak melihat reina dari 1 jam yang lalu, kemana dia?.
Kami semua mencari reina, tidak terasa 30 menit berlalu, yang berarti sudah pukul 08.30. AKU MELIHAT REINA!, dia memegang bendera berwarna ungu.. kenapa semua orang suka sekali melanggar peraturan?..
“REINA!, LEPASKAN TANGAN MU DARI BENDERA ITU!” aku baru melihat pak eko sangat cemas… baru kali ini.. memangnya kenapa kalau kita memegang bendera itu?, aku juga penasaran. “memangnya kenapa kalau aku ga lepasin tangan aku dari bendera ini?, apa aku bakal kayak jena? Tubuh aku bakal meledak?, bagus deh, aku mau mati aja, pada akhirnya kita semua mati kan?” perkataan nya benar, pada akhirnya kita semua akan mati. “DENGARKAN BAPAK, REINA, TOLONG LEPASKAN BENDERA ITU, KITA HARUS LARI SEKARANG JUGA”, ada suara dari semak semak, mungkin hanya hewan biasa, tetapi aku salah.
“aku-“ reina belum menyelesaikan kalimatnya, kaki nya ditarik oleh sesuatu ke semak semak, kami yang ada di tempat itu mendengarkan teriak histeris dari reina, “JANGAN, JANGAN MAKAN AKU!” tolong kami… kami tidak ingin berakhir seperti itu…
“SEMUANYA,LARI DAN SEGERA MASUK KE SEKOLAH!” kami semua langsung berlari dengan perasaan panik, dan sedih, hari ini, kami kehilangan satu teman lagi.
Hari ini bencana nya adalah angin topan, seperti kemarin lonceng berbunyi lagi, kami menutup telinga dan berusaha tidak melontarkan kata satu pun. Karena bencana kali ini, sekolah kami jadi tidak utuh seperti semula, banyak kerusakan, dan seperti biasa, banyak orang tewas, kami sudah menutup pintu ruangan, tetapi tetap saja, angin itu membuka pintu untuk menjemput beberapa orang, banyak yang tertarik oleh angin itu, aku berdiri di pojokan sambil memegang benda yang mungkin bisa menyelamatkan ku untuk kali ini. Dan aku selamat.
5 Bulan kemudian, bencana tetap terjadi.
Aku muak… kapan bencana ini berakhir?, aku sudah tidak tahan.. sekarang hanya ada 5 orang di sekolah ini.. aku,dira,rika,pak eko dan bu evy.
Kepala ku pusing.. semua nya hitam..
Aku tersadar, tanganku sangat berat.. aku melihat kearah tangan ku, aku memegang kayu yang ujungnya sudah tajam, seperti sehabis di asah dan di ujungnya sangat banyak darah, buat apa aku memegang benda ini?. Aku melihat ke sekitar ku, pak eko… bu evy… rika… mereka semua sudah tewas.. apa yang terjadi?..
“zel.. stop… please.. kamu kenapa jadi kayak gini?... kata kamu kita bakal bertahan sama sama?..” suara itu familiar bagi ku, dan itu dira. “maksud kamu apa dir?, kayak gini gimana?, jadi kata kamu aku yang udah bunuh rika, pak eko dan bu evy?, KENAPA KAMU NUDUH AKU?!” aku berlari kearah dira, dan menusuk leher dira dengan kayu yang tajam, aku merasa ada yang aneh di tubuhku, perasaan apa ini?.
“Dira… kamu ngapain?.. kok kamu malah bunuh diri?.. katanya mau bertahan sama sama?, hahaha..” aku sudah gila.. aku mencabut kayu yang telah membunuh dira, sahabatku. “aku jadi teringat akan reina… kamu benar rei, pada akhirnya kita akan mati” aku merasa ada yang keluar dari perut ku, ternyata itu adalah darahku.
- Pada akhirnya, semua nya yang tinggal di bumi ini akan mati, walau se besar apa pun usaha nya untuk bertahan hidup.
your story is very good 🤩🤩
ReplyDeleteWow so cool and ngeri, 10/10 would read it again
ReplyDelete