Full Of Liars
Aku melihat anak kecil seorang diri di kegelapan, aku mendekatinya perlahan – lahan dan menemukan jasad perempuan dewasa yang berada di depan nya. Anak itu terus menangis dan menggoyangkan tubuh jasad perempuan dewasa yang familiar bagi ku “ibu… tolong bangun…” gumam anak itu.
“Beatrice! Bangun!” teriak seseorang yang berhasil membuatku bangun dari mimpi buruk itu. Aku segera bangun dari tempat duduk ku “maaf pak, saya ketiduran,” ujar ku, lelaki tua itu menarik nafas panjang lalu berkata, “cuci muka mu lalu segera ke ruangan saya.” Aku mengangguk dan pergi menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, aku langsung mencuci muka ku dengan air dari keran wastafel dan melihat wajah ku dari pantulan kaca yang tepat berada di depan ku “kau benar – benar berantakan” ucap seseorang yang membuatku menoleh kearah nya, ternyata wanita itu adalah Zanira, dia berbeda divisi dengan ku dan dia terkenal sebagai orang paling menjengkelkan di kantor ini. Zanira menghampiri ku “mungkin kalau kau berhenti mencari pelaku pembunuhan itu, kau tidak akan seberantakan ini,” ucap nya sembari menyalakan keran wastafel lalu mencuci tangan nya, aku tersenyum lalu menjawab, “maaf, ini adalah pekerjaan ku tetapi terimakasih sudah mengkhawatirkan diri ku.” Zanira mematikan keran wastafel dan menoleh kearah ku “siapa yang khawatir?” cetus nya lalu keluar dari kamar mandi. Setelah wanita itu pergi meninggalkan ku sendiri di kamar mandi, aku pun segera keluar dan pergi menuju ruangan atasan ku.
Sampai di depan ruangan itu, aku membuka pintu nya dan segera di sambut oleh atasan ku “oh Beatrice, silahkan duduk,” ucap nya “baik,” jawab ku lalu menutup pintu dan duduk di kursi yang sudah di sediakan “mimpi itu masih menghantui mu?” tanya lelaki paruh baya yang duduk di depan ku “masih,” jawab ku “kau pasti sangat stress ya setelah kejadian ibu mu meninggal? Yang harus kau ketahui, itu bukan salah mu jadi jangan salahkan diri mu atas kejadian itu,” jelas lelaki tua itu dengan wajah yang mengeluarkan ekspresi kasian untuk ku “kau kuberi cuti selama 2 minggu, pakailah waktu itu untuk menyegarkan diri mu, bukan untuk mencari pelaku pembunuh ibu mu,” lanjut lelaki tua. Aku terkejut dan segera menjawab, “tidak perlu Pak John, saya baik – baik saja” Pak John terkekeh dan berkata, “aku sudah tau kau akan menjawab seperti itu jadi, jika kau ingin mengambil cuti itu, kirimi aku pesan, oke?” Aku mengangguk “terimakasih, Pak” ucap ku dan keluar dari ruangan itu.
Aku terbangun dari mimpi buruk itu lagi namun kali ini aku berada di kamar ku. Mimpi itu terus menghantui ku sedari aku kecil, entah apakah itu perasaan bersalah atau petunjuk untuk terus mencari pelaku pembunuh ibu ku.
Nama ku Beatrice yang berarti Pembawa kebahagiaan, ibu ku yang memberi nama itu. Dari hari aku mengetahui arti nama ku, aku ingin membawa kebahagiaan untuk ibu ku tetapi rencana ku gagal. Ibu ku pergi meninggalkan ku untuk selamanya saat aku berumur tujuh tahun. Aku bertanya – tanya siapa yang telah melakukan hal yang sangat menyedihkan itu kepada ibu ku? Kenapa harus ibu ku? Pertanyaan – pertanyaan itu terus muncul dalam benak ku sampai aku beranjak dewasa. Itulah mengapa aku bekerja sebagai Polisi untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan yang terus bermunculan di kepala ku.
Aku melihat kearah jam dan menunjukkan pukul 02.00 “Mungkin aku memang butuh liburan,” gumam ku lalu mengambil ponsel yang berada di samping ku dan segera mengirim pesan kepada Pak John untuk mengambil cuti dengan waktu dua minggu itu “baiklah, selamat bersenang – senang!” itulah jawaban yang Pak John berikan. Entah mengapa aku tetap tidak merasa lega padahal orang lain pasti sangat merasa lega jika mendapatkan cuti bukan? Besok aku berencana untuk mengemas barang – barang ku lalu pergi ke kampung halaman untuk menemui ayah ku, aku lumayan merindukan nya.
Keesokan hari, aku mengemas barang – barang ku dan memasukkan nya kedalam bagasi mobil. Aku memasuki mobil dan mulai menyetir. Di perjalanan aku terus memikirkan harus bagaimana untuk membuka percakapan dengan ayah ku karena jujur saja, hubungan ku dengan ayah ku lumayan canggung. Sedari kecil, aku tidak memiliki topik obrolan dengan nya begitu pun ayah ku, dia terlalu fokus dengan pekerjaan nya sampai – sampai dia lupa kalau dia memiliki anak. Setelah ibu meninggal, aku dititipkan oleh ayah ku kepada nenek ku, aku tidak mengerti mengapa ayah ku melakukan itu.
Sesampainya dirumah ayah, aku langsung disambut oleh ayah ku dan dia membantu ku membawa barang – barang ku masuk kedalam rumah “udah semua kan, dek?” tanya ayah “udah kok, yah,” jawab ku “yaudah, duduk dulu ya diruang tamu, ayah mau bikin teh sama beberapa cemilan buat kamu,” pinta ayah. Aku mengangguk lalu berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sofa kayu jati yang terlihat jarang di bersihkan, aku memerhatikan sekitar. Ini sangat aneh, mengapa tidak ada bingkai yang berisi foto ibu? Dulu rumah ini dipenuhi oleh foto ibu dan ayah, kemana pergi nya barang – barang itu? “dek? Ngapain ngelamun?” aku terbangun dari lamunan ku karena ayah yang tiba – tiba memanggil ku “g- gak apa – apa yah,” jawab ku gugup “eh itu biskuit kesukaan aku ya?” tanya ku untuk mencairkan suasana lalu ayah menjawab dengan anggukan serta senyuman. Ayah menaruh piring yang berisi biskuit kesukaan ku dan segelas teh hangat di samping nya. Aku mengambil satu biskuit dan mencelup kan nya ke dalam gelas teh lalu makan dengan lahap “setiap aku makan biskuit ini, aku langsung keinget ibu,” ujar ku sembari mengunyah “dulu, aku sering makan ini sama ibu di depan teras sambil nungguin ayah pulang kerja,” lanjut ku, entah mengapa tidak ada jawaban dari ayah, aku mengangkat kepala ku dan melihat mata ayah berkaca – kaca “ayah kenapa?” tanya ku
“jangan sebut ibu lagi,” aku terkejut karena perkataan ayah, bagaimana bisa dia berkata seperti itu? “kenapa, yah? Kenapa aku gak boleh bicarain ibu aku sendiri?” tanya ku penasaran, tiba – tiba ayah mendobrak meja yang berada di depan ku “AYAH BILANG JANGAN YA JANGAN!!” teriak ayah. Apakah semua ayah selalu membentak anak perempuan nya? Karena kesal aku segera pergi ke kamar ku yang berada di lantai 2, aku menaiki anak tangga dengan tergesa – gesa.
Sesampai di depan kamar, aku membuka pintu dan menutupnya dengan keras. Aku berbaring di atas kasur “kenapa ayah gak mau kalau aku bicara tentang ibu? Apa salah ibu?” gumam ku sembari melihat langit – langit kamar, tak terasa aku pun tertidur.
Aku bangun dari mimpi yang sama tapi ada yang berbeda kali ini, di mimpi ku tiba – tiba ada sosok laki – laki tetapi aku tidak bisa mengingat wajah nya. Aku bangun dari tempat tidur ku dan berjalan keluar kamar, aku menuruni anak tangga satu persatu. Sebelum menuruni anak tangga sepenuhnya, aku menemukan ayah yang tertidur di sofa, aku menghiraukan nya karena aku masih merasa kesal dengan nya lalu aku pergi ke dapur untuk mencari bahan makanan yang bisa ku jadikan sarapan. Aku membuka kulkas dan menemukan dua butir telur “cuman telur? Ayah selama ini cuman makan telur?” akhirnya aku memasak dua butir telur itu hanya untuk ayah.
Selesai masak, aku pergi keruang tamu untuk membangunkan ayah “ayah, bangun,” ucap ku sembari menepuk bahu ayah tetapi ayah tak kunjung bangun “ayah, ayo bangun, aku masakin ayah sarapan nih,” aku terus membangunkan nya tetapi lelaki paruh baya itu tetap tidak bergerak. Aku benar – benar panik, kenapa ayah tidak bergerak sama sekali? Kenapa ayah tak kunjung bangun? “ayah bangun!!” teriak ku, mata ku sudah berkaca – kaca, aku menahan tangis dan terus berharap bahwa tidak ada yang salah dengan ayah ku. Aku terlalu fokus dengan ayah ku sampai aku baru menyadari ada banyak obat berserakan di meja. Ayah ku mencoba untuk b*nuh diri bukan?
Aku menemukan secarik kertas berada di genggaman ayah ku, ayah ku menggenggam nya dengan sangat erat. Aku mencoba menarik nya dan berhasil, aku membuka kertas itu dan tertulis
“maafkan ayah karena sudah menitipkan mu ke nenek, ayah melakukan itu karena terpaksa, wajah mu mengingatkan ayah kepada ibu mu dan itu membuat ayah semakin merasa bersalah. Maafkan ayah karena ayah tidak sengaja membentak mu dan terimakasih, ayah senang bisa menghabiskan sisa – sisa waktu ayah bersama putri kecil ayah yang seharusnya ayah lakukan sedari dulu. Ayah tau kamu sudah dewasa sekarang tapi itu tidak mengubah pandangan ayah ke kamu, kamu tetap putri kecil ayah. Temui nenek mu agar kau mengerti dan jangan lupa untuk menjadi polisi yang adil, ayah sayang Beatrice.”
Aku membaca surat itu dengan air mata yang terus bercucuran, aku tidak tahu ayah sangat sayang kepada ku tetapi ayah jahat sekali, sekarang aku harus kehilangan satu orang lagi yang amat ku sayangi. Aku menyimpan secarik kertas itu dan segera menelfon keluarga ku untuk mengabari bahwa ayah ku telah tiada.
Aku melihat batu nisan yang tertulis dengan nama Theo Adya Prata, itu adalah nama ayah ku. Kenapa saat kedua orang tua ku meninggal, aku selalu menjadi yang pertama menyaksikan hal itu? Seakan – akan agar aku merasa bersalah.
Aku bukan lah pembawa kebahagiaan tetapi pembawa kesialan. Aku berdiri dan perlahan menjauh dari makam ayah ku, aku memasukkan tangan ku ke dalam kantong mencari secarik kertas yang diberikan oleh ayah lalu membukanya. Di kertas itu tertulis bahwa aku harus menemui nenek ku, apakah itu sebuah petunjuk? Aku menoleh kearah orang – orang yang datang ke pemakaman ayah ku namun aku tidak menemukan nenek ku, mengapa nenek ku tidak datang ke pemakaman anak nya? Aku segera pergi meninggalkan pemakaman dan pergi kerumah nenek ku.
Di perjalanan aku sangat merasa gugup entah kenapa, seperti aku akan mengetahui sesuatu.
Sampai di depan rumah nenek, aku menatap rumah itu cukup lama, aku teringat akan semua momen – momen bahagia bersama nenek di tempat ini.
Selesai ber nostalgia, aku mengetuk pintu rumah itu “nek, ini aku Beatrice,” ujar ku sembari terus mengetuk pintu dengan tergesa – gesa. Pintu itu dibuka perlahan dan menampakkan nenek ku yang sudah tua “nak Beatrice?” tanya nenek dan segera memeluk ku dengan erat “masuk dulu nak,” pinta nenek, aku mengangguk lalu berjalan masuk dan melihat isi rumah itu. Hal yang amat kusukai dari rumah nenek yaitu rumah ini dan isi nya tidak pernah berubah seiring waktu, nenek benar – benar suka hal kuno, dirumah ini aku merasa tentram dan damai seakan – akan beban pikiran ku ringan seketika.
Aku duduk di sofa empuk yang berada di ruang tamu lalu nenek ku membawa segelas teh susu hangat kesukaan ku sedari kecil di tangan nya yang sudah berkerut. “kamu mau nanya apa?” tanya nenek “nenek kenapa gak dateng ke pemakaman ayah?” tanya ku, nenek ku diam beberapa saat lalu menjawab “nenek takut akan menjadi selanjutnya,” jawab nenek ragu, aku semakin penasaran, sebenarnya apa yang disembunyikan oleh keluarga ku? “maksud nenek apa? Tolong jelasin ke aku semua nya,” pinta ku, lagi dan lagi nenek ku diam untuk beberapa saat “sebenarnya, dulu pekerjaan ayah kamu itu bisa dibilang sangat berbahaya karena menentang peraturan pemerintah negara ini, ayah kamu itu pemberontak dan dia berusaha mencari keadilan untuk rakyat yang tidak berdaya,” jelas nenek ku “ibu mu juga membantu ayah mu
untuk mencari keadilan maka dari itu pejabat – pejabat tinggi mengincar kedua orang tua mu dan ternyata mangsa pertama mereka adalah ibu mu dan mereka berhasil menangkapnya lalu sekarang mangsa mereka adalah ayah mu, kemarin ayah mu memberi tahu nenek bahwa mereka menyuruh ayah mu untuk b*nuh diri, kalau tidak kau yang akan mereka incar tetapi ayah mu begitu sayang dengan mu dan merelakan diri nya,” lanjut nenek ku.
Pernyataan itu benar – benar membuat ku terkejut, ayah selama ini bekerja untuk mencari keadilan? Itulah alasan yang membuat ayah dan ibu pergi meninggalkan ku? “ada yang bantu pejabat – pejabat itu?” tanya ku, nenek tersenyum masam “orang yang membantu pejabat – pejabat itu bernama John, itu adalah atasan mu kan?”
pertanyaan yang diberikan oleh nenek ku membuat ku amat terkejut sehingga tak bisa berkata apa – apa, bagaimana mungkin? Pak John? “dia yang memb*nuh ibu mu dan menyuruh ayah mu melakukan hal terlarang itu,” jelas nenek. Aku tidak bisa percaya ini, orang yang sangat baik kepada ku ternyata adalah orang yang telah membunuh kedua orang tua ku? Bagaimana bisa aku tidak menyadari hal itu? “kenapa nenek tidak memberi tahu ku sedari dulu?” tanya ku dengan nada tinggi “nenek dilarang ayah mu untuk memberi tahu mu hal ini karena ayah mu tahu bahwa kau juga memiliki jiwa pemberontak sama seperti ayah mu,” jelas nenek.
Pernyataan itu benar, aku memang memiliki jiwa pemberontak dan itu yang membuat ku ingin memenjarakan Pak John. Aku segera pergi meninggalkan rumah itu dengan mobil ku.
Aku sampai di kantor kepolisian yang dimana itu adalah kantor ku dan segera memasuki kantor itu. Aku mencari lelaki tua yang telah menghancurkan hidup ku, aku menuju ruangan Pak John dengan pistol di genggaman ku. Aku membanting pintu itu dengan keras dan terlihat Pak John yang terkejut setengah mati “B-Beatrice? Bagaimana liburan mu?” tanya Pak John gugup, aku menghiraukannya “Pak John, kau ditangkap atas tuduhan pembunuhan,” ujar ku sembari menodong kan pistol kearah Pak John “apa maksudmu?!” bentak Pak John. Aku mendekati Pak John dan segera memborgol kedua tangan nya “lelaki tua ini sudah membunuh kedua orang tua ku!” teriak ku sembari menunjuk Pak John, semua karyawan berada di depan ruangan menyaksikan kami berdua, mereka terkejut dengan pernyataan bahwa Pak John telah membunuh kedua orang tua ku.
Pak John telah dipenjara untuk seumur hidupnya atas tuduhan pembunuhan. Pernyataan itu membuat ku sangat lega, aku berhenti bekerja menjadi polisi lalu menjalani hidup ku sendirian di pulau yang jarang orang ketahui. Aku berusaha untuk merelakan kedua orang tua ku dan menjalani hidup yang tentram.
The End
Comments
Post a Comment